Ganti Menteri, Ganti Kurikulum?

Mendikdasmen Indonesia, Abdul Mu’ti, mengusulkan konsep Deep Learning dalam pembelajaran. Apa ini pertanda Indonesia akan memakai Kurikulum baru lagi?

Rapat Kerja (Raker) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI membahas peningkatan kualitas pendidikan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Deep LearningSeperti apa pendekatan Deep Learning yang diusulkan oleh Mendikdasmen? Yuk kita cari informasinya. 

Istilah Deep Learning yang dipakai oleh Mendikdasmen tidak sama dengan istilah Deep Learning yang lazim digunakan dalam ranah Artificial Intelligence (AI). Berdasarkan buku Pembelajaran Mendalam, Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diterbitkan oleh Puskurjar, Januari 2025. Dalam konteks pendidikan, Deep Learning atau dikenal dengan Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu.  

Jadi, Deep Learning ini merupakan suatu pendekatan. Kalau pada Kurikulum Merdeka kita dikenalkan dengan pendekatan Pembelajaran Berdiferensiasi, pada kebijakan baru ini kita dikenalkan dengan Pendekatan Deep Learning. Kita menyadari bahwa Pembelajaran Berdiferensiasi maupun Deep Learning bukanlah pendekatan baru, melainkan sudah ada sejak lama namun baru diadaptasi di Indonesia. 

Jadi, pendekatan Deep Learning yang diusulkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan sebagai pendekatan pembelajaran baru yang bisa saja diterapkan di dalam kurikulum yang ada. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kedepannya akan mempengaruhi penyusunan kurikulum di Indonesia, tergantung bagaimana implementasinya berjalan dan dampaknya terhadap kualitas belajar siswa. 

Nah, sekarang yuk kita mulai memahami dan adaptif terhadap perubahan untuk mengenal Pembelajaran Mendalam ini. Semakin banyak pemahaman kita, akan semakin mudah kita nantinya mendapatkan strategi pengajaran yang tepat dan sesuai untuk peserta didik kita. 

Dalam bukunya, Deep Learning and Constructivism in Education, Fred D. Davis (2019) mendefinisikan Deep Learning sebagai proses pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, di mana siswa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki, menciptakan keterkaitan konseptual, dan mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata. Jadi, jelas bahwa Deep Learning dalam pendidikan memiliki perbedaan mendasar dibandingkan pembelajaran tradisional yang berfokus pada hafalan dan pengetahuan. 

Michael Fullan dkk. (2018), menyatakan bahwa Deep Learning adalah sebuah kemitraan global yang bertujuan untuk:

  1. Mengubah peran guru menjadi fasilitator yang merancang pengalaman belajar yang membantu siswa mengembangkan kompetensi global melalui pemecahan masalah di dunia nyata.
  2. Mendukung sekolah, pemerintah, dan sistem pendidikan untuk mengubah cara praktik belajar serta cara mengukur pembelajaran secara autentik.
Deep Learning juga merupakan proses untuk memperoleh enam kompetensi global yaitu: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kretivitas, dan berpikir kritis.

Di Indonesia, Deep Learning atau yang selanjutnya dinamakan Pembelajaran Mendalam diharapkan sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat mewujudkan 8 kompetensi profil lulusan berikut:


terdapat sedikit perubahan dengan profil pelajar pancasila, yaitu Berkebhinekaan Global diganti dengan istilah Kewargaan dan terdapatnya kompetensi Kesehatan dan Komunikasi. 
Adapun kerangka kerja Pembelajaran Mendalam di tunjukkan pada diagram gambar berikut. 



Deep Learning menitikberatkan pada pemahaman yang mendalam dan relevan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada metode tertentu, tetapi juga didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran (meaningful learning), Bermakna (mindful learning), dan menggembirakan (joyful learning).


Dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning dalam pendidikan di Indonesia, diharapkan siswa dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam, dan mampu berpikir reflektif. 

Referensi:

Davis, F. D. (2019). Deep learning and constructivism in education. New York, NY: Academic Press.

Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep learning: Engage the world change the world. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

https://www.ruangguru.com/blog/pendekatan-deep-learning


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MY VLOG

MY PROFILE

MERDEKA BELAJAR DI PORTAL RUMAH BELAJAR